Nilai tukar rupiah terus tergerus dolar AS. Bahkan nilai tukar rupiah
dari kurs tengah Bank Indonesia telah lebih dari Rp 10.000 per USD. Hal
tersebut terjadi karena suku bunga Bank Indonesia atau BI Rate yang
masih tergolong rendah meski telah terjadi kenaikan 50 bps menjadi 6,5
persen.
Kepala Ekonom Bank Standard Chartered Fauzi Ichsan mengatakan, untuk
mengembalikan keperkasaan rupiah terhadap USD maka bank sentral harus
kembali menaikkan suku bunganya. Dari penilaiannya, Bank Indonesia harus
menaikkan BI Rate mencapai 7 persen hingga akhir tahun.
"BI setelah kenaikan BI Rate itu untuk menekan. Sementara ini BI
menurut saya tidak akan menaikkan suku bunga lagi. Pandangan kita tetap
BI rate harus naik lagi sampai 7 persen. Bagaimana membuat rupiah
menarik lagi," ucap Fauzi ketika ditemui di Jakarta, Senin (15/7) malam.
Menurutnya, rendahnya suku bunga saat ini membuat para eksportir dan
pengusaha enggan menjual dolar ke pasar. Jika keadaan seperti ini terus
dipertahankan, maka BI harus terus memasok dolar. Tentu saja kondisi ini
membuat cadangan devisa terus menurun.
"Kalau eksportir, pengusaha dan masyarakat tidak jualan dolar artinya
BI terus masok dan cadev terus turun. Membuat rupiah menguat ya naikkan
lagi BI Rate," katanya.
Dengan kenaikan suku bunga, dia yakin rupiah kembali perkasa terhadap
USD. Para pengusaha maupun eksportir akan melepas dolar mereka ke
pasar.
"Prediksi saya bulan depan akan naik 25 bps dan September naik 25 bps. Sampai akhir tahun 7 persen," tutupnya.




